Selasa, 08 Oktober 2013

Medali Perak untuk “Kompetisi” Keistiqomahan




Tepat tanggal 24 Agustus lalu, hari Jum’at sekitar jam dua siang, panitia PIONIR (Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan riset) IAIN Sultan Muhammad Hasanuddin Banten menyatakan Elfira Syuhada sebagai peraih medali perak dalam kompetisi lomba Musabaqoh Kandungan Isi Al-Quran (MKIQ) PTAIN se-Indonesia. Alhamdulillah, Subhanallah sekali bisa mendapatkan prestasi tingkat Nasional. Tentunya untuk suatu hal besar juga diikuti dengan perjuangan yang berat. Melewati berbagai “kompetisi” dengan ujian dan tantangan yang luar biasa pula. Aku menyebut kisah ini dengan “perjalanan kompetisi” menuju kompetisi yang sesungguhnya di Banten. Dan ujian yang paling berat diantara yang lain adalah KEISTIQOMAHAN.
Syahdan, bermula dari pengumuman seleksi menjadi perwakilan IAIN Ar-Raniry Banda Aceh untuk cabang lomba MKIQ. Terpilihlah aku sebagai peserta putri dan sahabatku  Makmur sebagai peserta putra untuk berjuang mengharumkan nama almamater di Pulau Jawa tersebut. Rektor kami, Pak Farid Wajidi menyebut para peraih medali sebagai “Pahlawan”.
Ujian pertama sekali yang datang adalah soal HIJAB. Aku menolak diukur oleh tukang jahit yang disewakan secara khusus menjahit seragam para kontingen  menuju Banten. Sekitar 22 orang peserta dari berbagai perwakilan cabang lomba hari itu diukur bajunya. Delapan wanita, dan sebelas laki-laki  akan diambil ukuran bajunya oleh seorang lelaki bernama Muhammad. Jelas, aku tak mau diukur oleh seorang lelaki. Butuh proses yang panjang untuk melakukan negosiasi kepada tukang jahit, sampai akhirnya ia pasrah pada keinginanku untuk tidak mau diukur olehnya. Dan membiarkanku pulang ke rumah dan mengambil baju sebagai sempel. Beberapa teman peserta lain melihatku dengan tatapan keheranan. Mungkin buat mereka hal ini sangat sepele. Bahkan sahabatku Makmur malah menyuruhku untuk mengukur saja, katanya mudharat, dan beberapa dosen juga berkata demikian. Hari itu aku merasa sendiri, jika tak kuat bisa pasrah saja.
Setelah melaju dengan kecepatan tinggi dari Kantor Small Kindness Lamprit menuju Darussalam, tanpa memperdulikan polisi tidur dan pandangan orang lain terhadap laju sepeda motorku, akhirnya sampai ke kampus kembali. Aku  syok saat tukang jahit tersebut sudah tidak ada lagi di tempat. Maka pertualangan berikutnya baru akan dimulai. Bagaimana caranya agar sempel baju itu sampai ke tukang jahit. Singkat cerita yang harus kulakukan adalah berjumpa dengan ketua tim kontingen IAIN Ar-Raniry atau penanggung jawabnya lah. Aku pasrah saja saat harus  “dirapal” dengan berbagai “mantra”. Ku terima saja semua nasehat itu tanpa banyak bicara. Kisah selanjutnya, dari perjuangan keistiqomahan ini aku bisa request “gaun” impian alias baju gamis yang aku bayangkan akan presentasi dengannya anggun nan percaya diri kepada  tukang jahit. (dan alhamdulillah jadi kenyataaan).
Kejadian ini menghebohkan Fakultas Dakwah. Pihak kampus merasa aku mempermalukannya. Sementara itu, aku sudah pergi ke “perantauan”, di lapangan tempat kuliyah pengabdian masyarakat (KPM), sebuah desa nan jauh dari ibu kota kabupatennya, Meulaboh. Di kampus, kabar ini menjadi omongan. Dan “kasus”ku ini sempat disidangkan. “Seharusnya kamu sudah dipalang dari daftar keberangkatan ke Banten,” begitu kata Dekan fakultas Dakwah saat aku kebetulan sedang mencoba berkonsultasi dengannya perihal tugas lapanganku melalui telepon seluler. Namun, tiba-tiba saja ia yang awalnya mengaku sedang sakit berubah mempunyai energi yang besar untuk membahas “kasus” ini kepadaku. Perbincangan pun berlangsung lama. Yang aku lakukan tak banyak, hanya diam saja, percuma kalaupun aku menjelaskan lelaki yang berjuluk Guru Besar dan sudah pengalaman berkeliling dunia ini juga tidak akan mau menerima.
Tak hanya dekan, siapa saja yang berjumpa denganku, pada saat itu akan bertanya perihal “aneh” ini. Aku rasa memang aneh dan remeh, aku hanya tak ingin diambil ukuran baju oleh laki-laki, dan si tukang jahit pun nampak tak masalah. Bahkan setelah itu, aku menjadi satu-satunya peserta yang paling akrab dengan si Bapak tukang jahit, ia sering menghubungiku, menanyakan ukuran yang pas, maklum, diukur dengan baju sempel banyak kekurangannya. Aku pun diijinkannya mendesain sendiri seragam tersebut. Alhamdulillah, kemenangan pertama bukti dari kesungguhan menjaga istiqomah.
Setelah pembahasan masalah ukur-mengukur, Pak Dekan tetap tak bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Di balik itu semua ia mengaku bangga padaku, karena mahasiswa Fakultas Dakwahnya menjadi perwakilan kampus IAIN Ar-Raniry.  “ Elfira (salah satu) kebanggaan saya,” ucapnya disebrang melalui telepon seluler. Meski tak melihat wajahnya, namun kata-kata itu masuk lewat telinga dan mengaliri seluruh tubuhku. Setelahnya aku bertekad untuk benar-benar membuktikan bahwa dengan keberadaanku bisa membanggakan Dakwah. (Dan alhamdulillah aku yang awalnya disangka telah memalukan justru diakui telah mengharumkan nama Dakwah). Aku awali langkah ini dengan menyusun program gebrakan di tempat Kuliyah Pengabdian Masyarakat (KPM) ku. Yang orang di kampung lain tidak bisa melalukannya. Sebuah perencaan event besar. Sekali lagi, setelah proses perjuangan dan pengorbanan besar kegiatan itu bisa kami wujudkan dengan izin Allah. Dan mendapat pujian dari kawan-kawan sesama peserta kampung lain. Masyarakat di kampung kami merasa kepercayaan dirinya mulai tumbuh setelahnya. Bahkan mereka sulit melepaskan kami setelah masa kerja lapangan ini usai.
Ujian berikutnya datang. Pak dekan memaksa, agar setelah selesai kuliyah lapangan, ketika sudah pulang aku langsung menjumpainya. Dan bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah adalah ia “memaksa” untuk bersalaman dengannya. Meski umurnya seperti orang tuaku, rambut putih, sudah kuanggap seperti orang tua, namun ia belumlah termasuk katagori kakek-kakek yang sudah boleh di salami. Dan saat ke pulangan tiba, aku dan beberapa orang teman serta seorang dosen muda yang mendampingi, bersilahturrahmi ke rumahnya. Saat itu masih momen lebaran. Selain itu aku juga ingin meminta izin untuk keberangkatan  ke Banten. “Jangan masuk rumah saya kalau belum bersalaman dengan saya,” kata Pak Dekan setelah membuka pintu rumah, sementara kawan-kawan yang lain langsung masuk ke dalam sambil menertawakanku. Wajahnya terlihat serius, tapi aku lebih serius lagi, “Ya udah... Fira pulang aja lagi,” kataku sambil mundur teratur menjauh dari pintu. Saat cukup jauh mendekati pintu pagar rumah, sang dosen muda memanggilku untuk masuk. Setelah beberapa perbincangan, aku pun memutuskan masuk. Pak Dekan pun ikut tertawa. Kesimpulanku adalah ia memang sedang menguji keistiqomahanku. Bahkan aku sempat mengatakan kepada dosen muda sang asisten dekan tersebut, jika perjuangan keistiqomahan ini harus aku bayar dengan digagalkannya cita-citaku enam tahun lalu, untuk mengikuti lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Nasional ini, maka akan ku korbankan.
Setelah perbincangan dengannya yang mengaku setuju dengan konsep “Islam Liberal”, ia memberikan nasehat kepadaku agar mewanti-wanti jika dewan juri nanti seperti pemikirannya bukan seperti pemikiranku (sunnah murni). Kupikir nasehat berharga. Menghadapi orang-orang yang pemikiran seperti ini memang butuh  metode. Harus pandai memilah-milih ucapan, pemikiran, karena ia juga merupakan gudangnya ilmu. Jadi ambil saja keilmuannya yang bermamfaat. Ibarat lautan yang luas, tak semuanya bisa menjadi hal berguna, perlu memilih hal-hal yang sesuai kegunaan. Di balik beberapa pemikirannya yang telah ia akui sendiri “liberal”, seorang Dekan Fakultas Dakwah sekarang ini adal sosok pribadi yang luar biasa. Aku mengaguminya, kecuali dalam beberapa hal perbedaan prinsip diantara kami. Aku memohon agar Allah senantiasa memberikan taufiq dan menunjukkan kekeliruan dari caranya berfikir.
Masalah dengan dekan beres, namun selanjutnya terfikir olehku saat wisuda nanti. Yang otomatis akan bersalaman dengan rektor juga. Wah, semua tekanan ini, menjadi bahan bakar dan energi untuk perjuanganku, untuk membuktikan bahwa keberadaanku bisa membanggakan Dakwah, membuktikan bahwa aku layak ke Banten. Dan untuk sebuah perjuangan lain nantinya, pada saat wisuda untuk tidak bersalaman dengan rektor. Kata “pahlawan” yang diucapkan rektor itu, memotivasiku, jika seandainya bisa kudapatkan satu medali, terserah juara berapa, maka aku akan membuat sebuah permintaan kepada rektor. Sebagai bagian yang disebut “Pahlawan”, sekarang aku sedang menunggu moment yang tepat untuk menyatakan permohonan itu.
Masih sangat banyak ujian keistiqomahanku menuju “Juara dua MKIQ Nasional” ini. Sebagian ini dulu yang aku ceritakan. Semoga bisa menjadi hikmah bagi yang membaca. Bahwa ketika kita mau memperjuangkan kemurnian ajaran yang sunnah ini, maka  pada saat berhasil akan ada hadiah terindah yang sedang Allah persiapkan. Semaikin besar perjuangan, semakin besar pula kesuksesan itu akan diraih. Allah hanya menguji, jadi tak perlu takut dengan cobaan-cobaan yang diberikanNya. Karena ketika istiqomah itu bisa dipertahankan, maka Allah pula lah yanga membantu dalam menghadapi ujian tersebut. Jangan sampai terkecoh dengan kenikmatan dunia. Alhamdulillah aku telah membuktikan indahnya ajaran sunnah yang mulia, sesuai dengan yang dicontohkan Rasul saw dan para Salaf.
Dan...
Kemenangan yang sesungguhnya lah yang didapatkan.
Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa kemenangan yang sesungguhnya itu adalah kemenangan yang disertai dengan keridhoan Allah swt.
 Saat keistiqomahanku diujiNya, ku coba jalani dan bertahan, meski beberapa kali sempat tertatih bahkan sampai “berdarah” dan air mata. Kemenangan ini sungguh indah tercicipi, setelah melalui perjuangan yang panjang. Dan resepku selama ini agar mampu bertahan adalah husnuzon alias positif thinking, baik kepada Allah maupun kepada orang lain meski yang berbuat tidak baik sekalipun, dan yang paling penting adalah kepada diri sendiri. Aku selalu memotivasi diri, membangun komunikasi intra personal di dalam dada setiap kali ujian datang. Setelah semua itu adalah, aku selalu menghadirkan Allah dalam setiap langkahku, bahkan untuk hal yang kecil dan remeh sekalipun. KepadaNya lah aku selalu mengadu dan menumpahkan jeritan hati atas segala cobaan dan perlakuan orang lain yang tidak menyenangkan. Tak lupa pula rasa syukur teramat dalam atas keberkatan yang diberiNya, berupa dikelilingi oleh orang-orang luar  biasa dalam bidangnya. Dan selanjutnya, mereka semualah yang menjadi guruku.

Sabtu, 14 September 2013

Muhasabah Suatu Hari


 Tepat di Hari Yudisium mahasiswa Fakultas Dakwah, Selasa, 10 September 2013. Hanya ada dua anggota keluarga JLK* yang mampu menempuhnya, yaitu Maria dan Asrina, keduanya mendapat nilai istimewa. Setelah acara selesai, kami berkumpul di kantin Jami’ah arah ke bundaran depan gedung Rektorat. Hanya ada Aku, Maria, Makmur, Iqbal dan Asrina.
dari kiri Makmur, Asrina, Aku, Maria dan Iqbal
  Tanpa kuduga, seorang Maria yang memang mempunyai jiwa seorang leadership memulai sebuah pembicaraan yang kami sebut kata sambutan kecil-kecilan dengan salam. Ada satu hal yang sangat perlu menjadi kesimpulan, walaupun kata ini sudah ku pahami maknanya, tapi  jauh lebih bermakna ketika seorang Maria Effy Yana, S.sos,I yang mengatakannya.
“Kita adalah apa yang kita Fokuskan. Fokus skripsi, dapat skripsi. Fokus MKIQ (prestasi) maka dapat prestasi. Fokus cari uang, maka dapat uang. Dan Fokus dengan Cinta (seorang cewek), maka ....” Ia berhenti di kalimat itu, tak usah diteruskan kami sudah tahu jawabannya.
Kesemua kefokusan yang ia sebutkan itu ditujukan masing-masing untuk kami berlima. Mungkin tak perlu kuperjelas fokus apa untuk siapa. Yang jelas, memang kita sesuai apa yang kita fokuskan selama ini. Dan tidak disangka-sangka, tiba-tiba Asrina nyelutuk dengan suara yang hampir tak terdengar, “Aku fokus dua-duanya, skripsi dapat, cinta beres.”
Terserah apa kata Asrina, walaupun ia merasa berhasil dua-duanya. Aku hanya mendukung urusan perkuliyahannya saja, tidak dengan urusan percintaan yang belum waktunya itu (maaf harus tegas). Aku tak yakin jika ia benar-benar mendapat kebahagiannya yang sebenarnya, mungkin ini semua hanya kebahagiaan semu saja. Karena dari satu kesimpulan lain hasil perbincangan kami, masalah “cinta” adalah masalah yang paling rata-rata menyebabkan depresi tingkat tinggi dan berefek terhadap perkuliyahan, ngak hanya cowok, cewek pun juga terjangkit.
Muhasabah kali ini sungguh bermakna, betul-betul merenungi perjalanan kami selama ini. Kenapa hari ini bisa begini, kenapa hanya ada Maria dan Asrina saja yang dapat Yudisium alias wisuda tepat waktu. Dan kenapa anggota JLK mulai sedikit berpencar di semester akhir, salah satunya juga karna cinta lokasi (maaf harus tegas lagi). Ini yang dari dulu aku mewanti-wantinya, tapi terjadi juga. Namun kami semua berharap, keluarga JLK bisa langgeng hingga kami mempunyai pasangan dan anak masing-masing. Akan ada silahturrahmi reunian nantinya. Kami sedang membanyangkan 5,10 atau 15 tahun kedepan. Aku akan mengenalkan anak-anakku kepada sahabat sekaligus keluarga JLK ku. Harapanku, semoga ukhwah diantara kita tak hanya berlangsung di dunia saja, tapi lebih dari itu ia harus langgeng hingga akhirat kelak.
Kini kami kembali memulai mengeratkan ikatan yang sempat longgar ini. Kita harus saling mengingatkan dalam berbuat kebaikan, bukan hanya senang-senang saja bersama-sama. Dan satu lagi pesan dari kata sambutan Makmur Dimila, seorang anak muda Aceh dengan kemampuan menulis diatas rata-rata remaja diusianya, “Dengan bersama-sama, kita jauh lebih bisa menghasilkan sesuatu yang besar...” Tak ku teruskan, karena ia menyebutkan mimpi besar itu. Kalaupun bisa menjadi kenyataan, biarlah menjadi surprise dari kami warga JLK.
***
               Adapun pesan moral dari muhasabah hari itu, jauhi cinta terlarang yang belum waktunya. Biarlah ia indah pada saatnya. Karena kita sesuai dengan ke fokusan diri. Fokus padahal negatif, maka negatif yang akan didapat, fokus pada hal positif, maka positiflah yang akan kita dapatkan. Kita bisa melihat gambaran diri kita 5 tahun ke depan dengan melihat diri kita hari ini, dengan siapa kita bergaul, apa yang kita lakukan, apa yang kita baca, dan apa yang kita fokuskan. Sangat parah, jika kita belum menemukan satu kefokusan, dan fokus yang dimaksud adalah fokus positif. Sekarang tanyakan pada diri sendiri, bagaimana dengan diri ini?



*JLK= jurusan KPI, konsentrasi Jurnalistik

Senin, 02 September 2013

Ajakan Pertama Kali (Makan) Malam Mingguan

(Gambar Hanya Visualisasi)

“De, makan youk?”

“GUBRAKKK!!!....,” teriakku dalam hati sambil menggenggam erat tangan Jou. Tiba-tiba aku terkejut berat saat kata itu dikeluarkan oleh seorang laki-laki putih dan kurus tinggi di hadapan kami (aku dan Juwairiyah kawan perempuanku). 
             

Sekitar jam delapan malam waktu Banten, di depan ruang resepsionis hotel ABADI, aku meminta Jou untuk menemaniku menyerahkan barang titipan kepada dua orang kawan baruku di IAIN Sultan Hasanuddin Banten. Lelaki kurus itu sudah berjanji akan membantu. Karena ia mahasiswa sekaligus telah bekerja di situ, jadi ku percayakan saja padanya. Malam itu, malam terakhir keberadaan kami para kontingen Banda Aceh setelah mengikuti berbagai perlombaan dalam rangka PIONIR se-PTAIN Indonesia. Kami terdesak dengan waktu kepulangan yang dijadwalkan tengah malam ke bandara, dan aku membutuhkan bantuan beliau. Sengaja memilih tempat yang ramai orang berlalu lalang, dan tidak sepi. Perbincangan pun tak berlangsung lama, kami harus memakai gaya “sok” buru-buru agar tak menyinggung perasaan orang.
          Tak pernah ku sangka, seumur hidup akan ada yang berkata begitu kepadaku. Ternyata, tidak di Aceh, tapi di kampung orang bisa. Dalam hati  aku bertanya-tanya, kog bisa ya, ia orang yang berada dalam sebuah institusi agama Islam bisa berkata demikian. Ok, mungkin bisa jadi, tapi apakah ia tak bisa sensitif dengan sekitarnya, siapa wanita di depannya? Dua wanita dengan jilbab tebal berkibaran berdiri pun ada jaraknya. Biasanya ini cukup menjadi sebuah simbol bagi orang yang berfikir. Bukan mengatakan kami sudah sempurna diri, hanya saja kami membawakan simbol penjagaan diri. Mungkin di Aceh ngak ada yang berani ngajak dinner akhwat malam Mingguan
Tapi, aku berusaha husnozon saja dengan berbagai perbedaan budaya beberapa hari ini, “ok, mungkin ia bermaksud baik, dan hal itu dianggap lumrah di tempat mereka, tapi aku tetap harus tegas dengan prinsip yang diajarkan dalam syariah yang sesungguhnya.” Kemudian otakku berfikir keras untuk memilih diksi yang tepat. Lagi-lagi untuk tidak menyakiti hati orang, apalagi orang Sunda terkenal lembut. Ditambah lagi, aku pernah mendengar ucapan salah seorang teman disitu, “Kalau sampai menyakiti hati orang Banten,  sama dengan tidak bisa pulang.” Alamak...
“Maaf Bang, menurut adat kami orang Aceh, itu tidak baik, hehehe,” kataku dengan senyum memaksa. Sengaja aku menyebut menurut adat dulu bukan agama.
“Iya, ya...,” jawab lelaki kurus tinggi itu sambil tersenyum, dan ia  memang terlihat ragu-ragu dari awal untuk mengajak.
“Kan, menurut agama juga tidak bagus toh? Apalagi ini malam Minggu, apa bedanya dong dengan orang yang ‘janjian’?” sambungku lagi, sementara Jou si anak Malaysia yang baik hati ini hanya menjadi pendengar khitmat.
“Iya, betul. Kalau gitu, kapan-kapan aja deh. Mungkin kalau saya sudah di Aceh nanti.”
“Amin, insha Allah. Boleh hubungi kami (anak IAIN Banda Aceh) kalau sudah ke sana nanti.”
Kemudian aku dan Jou meminta izin untuk pergi dengan gaya terburu, meminta maaf saat beliau sedang masih bicara.
“Ok, Bang, kami tunggu kunjungannya ke Aceh. Sudah dulu ya, buru-buru mau kemas-kemas. Terimakasih, Assalamu’alaikum.” kataku sambil terus berjalan menjauh.
***
Pengalaman ini benar-benar mengujiku. Mungkin jika terjadi di Aceh, aku bakal marah-marah membara mengeluarkan esmoni, eh emosi. Tapi di kampung orang, mana bisa, harus bersikap bijaksana, namun tetap menjaga perintah syariah.
Betul lah pesan ustazahku, jika seorang wanita bersafar memang harus di dampingi mahram. Begini lah cara Allah mengajarkanku. Setelah teori, langsung ada contoh dan prakteknya. Untuk orang lain mungkin hal ini biasa saja, tapi bagiku sangat membuat terkejut dan menjadi pelajaran yang akan selalu kuingat Insha Allah.
 Dua minggu sebelum keberangkatanku, aku sempat tergoyahkan pemahaman tentang wanita bersafar yang sesuai tuntunan karena teori  dosenku di IAIN. Ia mengatakan bahwa pemikiran wanita bersafar wajib dengan muhrim adalah pemikiran kolot dan radikal. Tidak bisa membawa kemajuan. “Jika berpergian dengan rombongan tapi terjamin keamanannya, kenapa nggak? Kan yang ditakutkan keselamatan si wanita.”
Kedepan, jika ada peluang kuliyah keluar negri, aku akan berfikir seribu kali. Jika pun aku terima, tentu aku tahu apa yang harus terpenuhi, yaitu “dimuhrimkan” terlebih dahulu. Begitu kata ustazahku. Tentu si Doi yang menjadi pangeranku selain orang yang paham sunnah dengan baik, ia juga bisa mengerti citaku untuk menuntut ilmu. Bukankah Allah memang menyuruh hambanya untuk bertebaran di muka bumi?


(Wallahu’alam. Smoga kisah ini bisa menjadi Hikmah, dan tidak menimbulkan fitnah. Jika ada yang kurang jelas, boleh bertanya.)


  

Kamis, 27 Juni 2013

Ibu yang “Fanatik” Miyako

“Miyako ya?” Pesan ibu sesaat  sebelum membeli kipas angin baru bewarna biru putih seminggu yang lalu. Keren, baru tau ada kipas angin yang sudah ber-remote pula. Jadi ngak susah-susah kalau mengaturnya pada saat tidur.
Entah kenapa ibuku dan beberapa orang kampungku begitu fanatik Miyako. Katanya “Miyako koeng (tahan lama, bahasa Acehnya), dan terjangkau lagi.” Hampir semua barang elektronik yang sudah kami miliki dirumah mereknya Miyako. Pertama sekali beli Blender, asli tahan dari kami SMP dulu, sampai mau tamat kuliyah sekarang ini. Dan ketika bersilahturrahmi ke beberapa rumah tetangga pun, banyak peralatan elektronik woro-wiri nama Miyako, terutama dispenser. Bahkan hampir satu kampungku menggunakan dispenser Miyako.
Bagi keluarga kami yang sederhana, membeli barang elektronik bukanlah hal yang mudah, tapi kami perlu menabung berbulan-bulan terlebih dahulu. Bahkan terkadang, membeli barang elektronik menjadi impian tersendiri. Seperti bulan puasa satu tahun lalu yang sangat panas. Apalagi di Aceh, betul-betul lengkap ujiannya lah.
“Seandainya ada kipas angin, ya Allah,” lirih ibu. Dan hal senada hampir diucapkan oleh kelima penghuni rumah yang lainnya, abang dan adik-adikku juga.
“Tuh kan ada AC alam. Besar lagi, orang kaya mana punya,” begitu cara ayah yang memang berkarakter sabar dalam menyabarkan kami. Maksudnya itu adalah dinding rumah yang terbuat dari kayu ala kadarnya yang bolong disana-sini, sehingga banyak angin berkeliaran keluar masuk lewat lobang tersebut. Sedih mendengarnya. Tapi, ini kami jadikan motivasi. Ibu menabung dari hasil jual kacang goreng yang dititipkan ke warung-warung kopi.
Impian ibu, Blender, setrika, kipas angin, ricecoocer dan yang terakhir dispenser yg belum diwujudkan. Mungkin ke depan bisa nambah lagi. Tapi itu yang paling pokok terlebih dahulu. Kalau tidak ada setrika, baju tidak rapi, kalau tidak ada ricecooker, nasi bisa hangus melulu, dsb.
Nah, sekarang saya sedang berusaha menabung untuk membeli dispenser impian ibu. Membayangkan wajah ibu yang ceria saat pulang dari sawah walau kecape’an dan berpeluh, tinggal kuambilkan gelas dan, srettt! jadi  deh, langsung minum. Tidak seperti biasanya yang harus menunggu dimasak air terlebih dahulu, serta menimba air yang jaraknya 10 meter dari dapur.
 Belakangan kami sering sariawan dan panas dalam karena kekurangan minum. Habis, lama-kelamaan jadi malas juga kalau harus memasak air terlebih dahulu sebelum minum, padahal baru pulang dari aktivitas sehari-hari yang menguras tenaga. Ya, terpaksa beli air mineral kalau sudah genting. Tapi, hal ini justru boros jadinya. Uang jajan yang seharusnya bisa digunakan untuk yang lebih bermamfaat malah harus dihabiskan hanya untuk membeli minum.
Oleh sebab itu, saya bertekad, semoga bulan puasa ini, Allah dengan kemurahan hatinya memberikan rezeki untuk kami membeli dispenser. Giat menabung dan bekerja lagi. Saat ini aku sedang mengajar di sebuah les, nyambi kuliah. Jadi aku sisihkan sedikit demi sedikit dari kebutuhan kuliyahku yang menginjak semester akhir ini. Semoga dispenser impian ibu bisa tercapai pembeliannya. Seperti  pada saat ibu bermimpikan membeli setrikaan. Wajah ibu terlihat sangat sumringah saat ku bawa pulang sebuah setrika listrik bewarna biru putih (warna favorit sepertinya, hehehe).Kira-kira sekitar dua setengah tahun yang lalu.
 “Berapa Neuk (Nak)?” Tanya ibu tentang harganya.
“Tenang aja bu, ngak dijual lagi kog. Hehehe,” jawabku sedikit becanda. Namun enggan menyebutkan harganya. Mungkin ibu berfikir dengan kualitas segitu pastilah harganya cukup sulit untuk ku tebus yang kala itu baru mendapat gaji pertama mengajar les. Uang yang kuhasilkan secara susah payah itu, untuk pertama kalinya ingin ku persembahkan untuknya, demi menyenangkan hati  wanita mulia itu. Kebetulan aku sangat terkejut melihat label harga di sebuah toko elektronik di Banda Aceh tersebut. “Ha? Miyako hanya Rp 75.000, mending ini aja lah?” pikirku disudut toko tempat setrikaan dipajang berbagai merk. Wah, bersyukur sekali. Uang pertamaku yang totalnya Rp150.000 tak habis semua. Karena awalnya aku fikir sampai seratusan ribu lebih.
Ini pengalaman pertamaku membeli barang elektronik untuk keluarga. Ada rasa bangga disana. Senaaang sekali rasanya. “Mak, udah ngak usah gosok pakai arang lagi ni,” ucapku saat ibu membuka bungkus setrika itu sambil membaca kertas intruksi penggunaan. Ibu hanya membalas dengan senyum yang indah tanpa berkata-kata. Justru inilah indahnya. Mendapatkan impian dengan berusaha sungguh-sungguh.